Sabtu, 09 Februari 2019

Penyesalan di saat sakaratul maut


MENYESAL DI SAAT SAKARATUL MAUT
Dikisahkan ada seorang sahabat Nabi bernama Sya’ban RA. Ia adalah seorang sahabat yang tidak begitu menonjol, bila dibandingkan sahabat-sahabat yang lainnya. Namun ada suatu kebiasaan unik dari beliau, yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai, ia selalu beritikaf di pojok depan masjid. Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah bersandaran atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tidak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah. Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat, bahkan oleh Rasulullah SAW, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut, termasuk saat sholat berjamaah.
Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai, RasululLah SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Nabi pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban RA ?. Namun tak seorangpun jamaah yang melihat Sya’ban RA. Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang. Khawatir sholat subuh kesiangan, Nabi memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat subuh, Nabi bertanya apa ada yg mengetahui kabar dari Sya’ban RA ?, Namun tak ada seorangpun yang menjawab. Nabi bertanya lagi, apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA ?, Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA. Nabi khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA dan meminta diantarkan ke rumahnya. Perjalanan dengan berjalan kaki cukup lama ditempuh oleh Nabi dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud. Rombongan Nabi sampai ke sana, saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira2 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah tersebut Nabi mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam beliau.
“Benarkah ini rumah Sya’ban?” tanya Rasulullah.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut.
“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?”.
Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
“Maaf, beliau telah meninggal tadi pagi, ya Rasulullah"
Sontak Rasulullah, dan para sahabat kaget.
"InnaliLahi wainna ilaihirojiun, Maa sya Allah. Ternyata penyebab satu-satunya yang menyebabkan ia tidak sholat subuh berjamaah, adalah karena ajal sudah menjemputnya". Sejenak Rasulullah dan para sahabat larut dalam suasana haru. Beberapa saat kemudian istri Sya’ban berkata.
“ Ya Rasulullah, ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua. Yaitu, menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali, dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat. sampai kini, kami semua tidak paham apa maksudnya."
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul.
Di masing-masing teriakannya dia berucap kalimat:
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “
“ Aduuuh kenapa tidak semuanya……”
Nabi pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 :
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“ Rasulullah pun melanjutkan:
Di saat Sya’ban dalam keadaan sakratul maut, pada sat itu perjalanan hidupnya ditayang ulangkan oleh Allah. Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yg sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh orang lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan, dimana dikesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk sholat berjamaah lima waktu. Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkah kakinya ke Masjid. Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya.
Di saat melihat itu, dia berucap:
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
Timbul penyesalan di dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi, supaya pahala yang didapatkannya lebih banyak, dan Surrga yang didapatkan lebih indah.
Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.
Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju. Sya’ban sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam, dan yang jelek (butut) di luar. Pikirnya saat itu, jika kena debu, sudah tentulah yang kena hanyalah bajunya yang luar saja. Dengan harapan, bila nanti sampai di masjid, dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus. Namun, dalam perjalanan ke masjid, ia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan, dalam kondisi sungguh mengenaskan. Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yang paling luar, dan dipakaikannya kepada orang tersebut, dan memapahnya untuk bersama-bersama pergi ke masjid melakukan Shalat berjamaah. Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan, dan bahkan sempat melakukan Shalat berjamaah. Sya’ban pun kemudian melihat indahnya sorga , yang sebagai balasan atas perbuatan baiknya memakaikan baju butut itu kepada orang tersebut
Makanya, yang di saat-saat sakratul maut, dia berteriak lagi:
“ Aduuuh... kenapa tidak yang baru..?“
Saat itu, timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban. Jika dengan baju butut saja ia bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi, seandainya saja waktu itu ia memakaikan baju yang baru.
Berikutnya, Sya’ban melihat lagi suatu adegan, saat ia hendak sarapan dengan roti, yang dimakannya dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu, yang meminta, agar diberi sedikit roti saja. Karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal tersebut, Sya’ban merasa iba. Ia pun kemudian membagi dua roti itu sama besar. Demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua, mereka akhirnya makan bersama-sama. Roti yang sebelumnya dicelupkan susu, kini dimakan dengan porsi sama.
Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA itu dengan surga yang indah. Demi melihat adegan itu di saat sakratul mautnya, ia kembali berteriak:
“ Aduuuh... kenapa tidak semua…?”
Sya’ban kembali menyesal . Seandainya ia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut pada waktu itu, tentulah ia akan mendapati surga yang jauh lebih indah.
Masyaallah, Sya’ban bukan sedang menyesali diri karena telah banyak berbuat salah, di saat sakaratul maut menghampiri. Akan tetapi ia menyesal, mengapa dulu ia tidak beramal optimal. Lalu, bagaimana dengan kita nanti?. Apakah kita termasuk hamba-hamba yang dipermalukan di saat-saat sakaratul maut?. Ataukah golongan insan-insan yang meratapi diri di balik kain Kafan?. Hanya pada Allah kita berserah diri, ,moga selalu dalam lindungan dan rida-Nya, Aamin.
Baginda Rasulullah saw pernah menjelaskan indikasi hati yang telah dimasuki cahaya "iman":
Artinya: "Apabila cahaya (iman) telah masuk ke dalam hati, maka hati itu akan bersih dan bercahaya". Para sahabat bertanya, "Apakah tandanya wahai Rasulullah?". Beliau menjawab, "Berharap ke kampung abadi, menjauh dari kampung yang menipu (dunia) dan bersiap untuk kematian sebelum kedatangannya". (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas'ud)
" Ampuni kami Ya Allah, Yang sering lalai, dan masih bangga berbuat salah". Aamin. Wallahu A'lam Bissawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Dreamer

Menurut pendapat  saya, mimpi adalah anugerah TUHAN yang diberikan kepada seluruh hamba-NYA tanpa terkecuali. Karena saya yakin dengan sepen...