Sebagai seorang peneliti ilmiah seringkali kita tidak bisa mengabaikan fenomena alam yang ada di sekitar kita, seperti halnya saat penulis melihat fenomena luminiscence pada makhluk hidup ketika penulis hendak pulang larut malam selepas kegiatan organisasi. Malam itu penulis melihat beberapa serangga kunang-kunang (Lampyridae), fenomena tersebut cukup indah untuk dipandang dikala penulis menyusuri jalan pulang, namun tidak cukup sampai memandang juga ada rasa keingin tahuan.
Luminesensi adalah emisi cahaya oleh suatu zat yang bukan berasal
dari panas, sehingga emisi cahaya yang dihasilkannya tersebut berupa sebuah bentuk radiasi dari benda dingin. Luminiscence ini dapat disebabkan oleh reaksi kimia (chemiluminiscence) atau juga penyerapan poton (fotoluminiscence). Kemudian, mengapa kunang-kunang bisa mengemisikan cahaya ?, tentu jawabnya adalah karena kunang-kunang mengalami sebuah reaksi kimia tertentu yang mampu menghasilkan cahaya.


Kunang-kunang mengalami reaksi kimia dalam tubuhnya yang mana dari rekasi kimia tersebut mengahsilkan emisi cahaya. Ketika oksigen bergabung ATP dan luciferin dengan dibantu oleh luciferase, yiatu suatu enzim bercahaya, maka cahaya akan dihasilkan.

Tidak seperti bola lampu, yang menghasilkan banyak panas selain cahaya, kunang-kunang adalah cahaya dingin tanpa banyak energi yang hilang sebagai panas. Hal ini perlu karena jika organ penghasil cahaya kunang-kunang menjadi sepanas bola lampu, kunang-kunang tidak akan selamat.
Lalu
bagaimana fungsi dan aplikasi dari fenomena bioluminiscence ?. Sebagian
bessar peneliti bioluminescence dipandang sebagai fitur menarik dari
dunia kehidupan. Sebenarnya, aplikasi analitik bioluminesensi telah digunakan
selama 50 tahun. Dengan ditemukannya ATP untuk emisi cahaya pada kunang-kunang
dan fakta bahwa jumlah cahaya berbanding lurus dengan jumlah ATP, banyak manfaat yang
bisa digunakan dalam aktivitas tersebut. Kemudian, isolasi
aequorin membuka jalan untuk pendeteksian kalsium. Pengukuran tersebut, dan
pengukuran bioluminescence lainnya memiliki setidaknya tiga keunggulan utama,
yiatu:
1. Kecepatan, hanya
diperlukan beberapa detik atau menit
2. Kepekaan yang
tinggi, jumlah zat satu miliar atau lebih kali lebih sedikit daripada tes
konvensional yang dapat dengan mudah dideteksi
3. Proporsionalitas
pada rentang konsentrasi yang sangat besar, banyak tes dapat dilakukan pada kisaran satu juta atau
lebih.
Pemanfaatan luciferin yang ada dalam kunang-kunang dengan
tambahan enzim luciferasi dengan cepat diadopsi untuk pengukuran jumlah
sel ATP dalam penelitian biokimia. Aplikasi dengan dampak yang lebih luas
adalah penggunaannya deteksi bakteri kotoran hewan (biasanya E. coli) dengan uji kunang-kunang ideal
untuk deteksi bakteri yang cepat dan sensitif. Uji ATP yang sama
sekarang digunakan untuk memantau produksi minuman ringan, di mana kontaminasi
jamur jarang terjadi tetapi tidak terduga, semua batch diuji, seperti yang
mungkin siap dilakukan.
Selama bertahun-tahun luciferase kunang-kunang yang
digunakan dalam tes ATP dimurnikan dari kunang-kunang. Saat ini, permintaan
terbesar mungkin untuk metode baru untuk penentuan cepat urutan nukleotida DNA
yang disebut sekuensing "pyro". Nama ini didasarkan pada fakta bahwa
pirofosfat dilepaskan pada tahap penentuan nukleotida, setelah diubah menjadi
ATP, menghasilkan kilatan cahaya. Dengan otomatis sekitar 500 juta pasangan
basa dapat ditentukan per 10 jam berjalan di mesin.



Fenomena alam semesta beserta segala isinya adalah bukti nyata Kemahakuasaan
Sang Khalik. Orang beriman sebagai makhluk yang berpikir disu ruh untuk
merenungi, betapa hebat ke kuasaan Allah SWT yang telah menciptakan segala
sesuatu. Bertafakur dan merenung adalah
model berpikir yang dianjurkan dalam Islam. Seperti Firman Allah SWT,
“Sesungguhnya da lam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Mereka
berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua, dengan
sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali
Imran [3]:190-191).
Ayat
ini menyuruh umat Islam untuk merenungi fenomena yang terjadi di alam semesta.
Tujuannya, agar bertambah keimanan di dada seorang hamba setelah ia menyadari
betapa hebat kuasa Allah SWT yang mengatur alam tempat ia berada. Semoga dengan artikel ini bisa menambah keimanan dan keatqwaan kita kepada Allah SWT. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar